TL;DR — Di meja makan Jepang, sudah umum untuk berbagi makanan dari piring besar bersama-sama. “Torizuke” (mengambil bagian) berarti memindahkan makanan dari piring bersama ke piring sendiri. Penggunaan sumpit saji atau tidak bergantung pada situasi dan kebiasaan keluarga masing-masing, namun rasa kebersamaan dalam menikmati makanan bersama sudah tertanam dalam dalam budaya kuliner Jepang.
Meja Makan di Rumah Kami Selalu Pakai Piring Besar
Kalau saya ingat-ingat makan di rumah orang tua dulu, di meja makan selalu ada beberapa lauk yang disajikan di atas piring besar.
Karaage (ayam goreng), tumisan, masakan rebus, sashimi — semuanya keluar dengan piring besar yang langsung ditaruh di tengah meja, lalu masing-masing anggota keluarga mengambil bagiannya dengan sumpit sendiri. Kadang pakai piring kecil masing-masing, kadang langsung ambil dari piring besar saja. Tidak pernah ada aturan khusus yang disadari, itu memang pemandangan yang sudah biasa.
Di meja makan keluarga Jepang, “gaya berbagi” seperti ini sudah menyatu secara alami.
Apa Itu “Torizuke”?
“Torizuke” (取り分け) berarti mengambil makanan dari piring besar ke piring makan sendiri, atau bisa juga berarti membantu mengambilkan bagian untuk orang lain.
Di restoran dan izakaya Jepang pun sama — makanan yang dipesan pertama kali dibawa ke meja dalam piring besar atau panci, lalu semua orang di meja menikmatinya bersama. Berbeda dengan menu kursus yang satu orang satu piring, di sini ada rasa “kita semua di meja ini makan bersama.”
Pakai Sumpit Saji atau Tidak?
Saat mengambil dari piring bersama, apakah menggunakan “torihashi” (sumpit saji) atau tidak, tergantung pada situasi dan kebiasaan keluarga.
Situasi yang biasanya pakai sumpit saji:
- Saat ada tamu yang diundang
- Di restoran tradisional atau tempat yang agak formal
- Saat masak hotpot (biasanya sudah ada sumpit saji bersama)
Situasi yang tidak terlalu mempermasalahkan sumpit sendiri langsung:
- Makan bersama keluarga atau teman dekat
- Pesta minum kasual di izakaya
- Ketika bahan makanannya mudah hancur dan lebih mudah diambil langsung
Lebih dari sekadar aturan yang kaku, ini lebih terasa seperti “secara alami ditentukan oleh suasana tempat dan seberapa dekat hubungan dengan orang yang ada.”
Ada orang yang diajarkan bahwa “sumpit langsung itu tidak boleh,” tapi ada juga yang sejak kecil di rumah selalu pakai sumpit langsung. Ini cukup bervariasi tergantung keluarga dan daerah, jadi sulit untuk bilang “di Jepang pasti begini.”
Di rumah kami, tidak terlalu mempermasalahkan sumpit langsung, jadi sampai sekarang saya pun tidak terlalu peduli.
Tapi, ada saja orang yang mempermasalahkan hal ini. Jadi saya biasanya melihat apakah ada seseorang di tempat itu yang tampak tidak nyaman, baru memutuskan cara bertindak.
Belakangan ini, ada pendapat bahwa bahkan di dalam keluarga sekalipun sebaiknya tidak menggunakan sumpit langsung, mengingat bakteri yang bisa mempengaruhi gigi berlubang.
Suasana “Berbagi” di Izakaya
Kalau pergi ke izakaya, budaya berbagi ini terasa lebih kental lagi.
Di izakaya, gaya dasarnya adalah memesan makanan untuk seluruh meja dan semua orang makan bersama. Kalau pesan “karaage,” datangnya dalam piring besar untuk semua orang; sashimi campuran pun dibagi bersama. Tidak ada pikiran “pesan yang akan dimakan sendiri saja” — suasananya lebih ke “ayo semua cobain macam-macam.”
Di luar negeri, mungkin banyak gaya makan di mana makanan itu “milik sendiri” dan dimakan sendirian, tapi di izakaya Jepang, “berbagi seluruh meja” sudah menjadi asumsi tersirat dalam hampir semua kasus.
Kalau tidak mau berbagi, ada juga strategi memesan dua porsi saat memesannya dan menyimpan satu hanya untuk diri sendiri (haha).
Yang Aktif Mengambilkan vs. Yang Ambil Sendiri Saja
Yang menarik adalah, saat makan di izakaya, ada “orang yang aktif mengambilkan makanan untuk orang lain” dan “orang yang hanya mengambil untuk dirinya sendiri.”
Kalau ada orang yang senang mengurus orang lain, atau yang merasa harus menghormati orang yang lebih tua karena dirinya yang paling muda, maka tindakan “torizuke” ini pun terjadi.
Biasanya, salad yang pertama keluar sering dibagi merata sesuai jumlah orang.
Kadang seseorang secara natural mulai mengambilkan sambil bilang “nih, silakan.”
Ini sering diterima sebagai bentuk perhatian, tapi reaksi orang yang menerimanya pun bermacam-macam. Dari yang saya amati, ada yang bilang “oh, terima kasih” tapi dalam hati berpikir “tidak perlu melakukan itu. Biar aku ambil sendiri saja.” Sebaliknya, ada juga yang merasa “anak muda ini ternyata sangat perhatian ya.” Bahkan di antara orang Jepang sendiri, ini bisa berbeda-beda.
Di Jepang pun ada orang yang hanya karena lebih tua, menuntut rasa hormat dan penghargaan dari orang lain.
Kalau ketemu orang seperti itu, kamu tidak perlu mengambilkan makanan untuknya — dan bahkan, saya sarankan untuk tidak pergi ke izakaya bersama orang itu sejak awal. (haha)
Yang Berguna untuk Diketahui Orang Asing
Saat makan bersama orang Jepang di restoran atau izakaya Jepang, kalau ada piring besar yang datang, menganggapnya sebagai “sesuatu yang dibagi bersama semua orang” akan membuatmu lebih mudah menyesuaikan diri.
Kalau ada sumpit saji, menggunakannya akan memberikan kesan yang sopan. Tapi kalau tidak ada, menggunakan sumpit sendiri langsung pun tidak masalah (terutama di tempat kasual). Kalau kamu mengambilkan makanan untuk orang lain juga, bisa saja kamu dianggap sebagai “orang yang perhatian.”
Sebaliknya, kalau kamu menguasai piring besar sendirian dengan rasa “ini punyaku,” mungkin kamu akan dianggap kurang bisa membaca suasana. Sekuat itu rasa “berbagi adalah hal yang sudah semestinya.”
Pertanyaan yang Sering Diajukan
T: Bagaimana jika tidak ada sumpit saji di meja? J: Menggunakan sumpit sendiri langsung dari piring bersama hampir tidak menjadi masalah di tempat kasual. Kalau khawatir, boleh bertanya “Apakah ada sumpit saji?” atau ada juga orang yang membalik sumpit sekali pakai sebagai gantinya.
T: Bolehkah memesan hanya makanan yang ingin dimakan, satu porsi untuk diri sendiri saja di izakaya? J: Tentu saja boleh. Tapi kalau orang Jepang yang duduk bersama sudah menciptakan suasana “ayo berbagi,” memesan satu porsi terpisah hanya untuk dirimu sendiri mungkin terasa sedikit canggung. Menambahkan satu menu favorit secara terpisah masih tidak masalah sama sekali.
T: Apakah menggunakan sumpit sendiri langsung dari piring bersama melanggar etika? J: Di tempat formal (seperti ryotei) menggunakan sumpit saji adalah cara yang resmi, tapi di rumah atau di izakaya yang kasual, menggunakan sumpit sendiri langsung sudah lazim diterima. Sebaiknya pertimbangkan hubunganmu dengan orang lain dan tingkat formalitas tempatnya.
Artikel ini diterjemahkan menggunakan Claude AI. Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan terjemahan yang mengakibatkan ungkapan yang mungkin kurang sopan atau tidak pantas.
TL;DR — 日本の食卓では、大皿に盛られた料理をみんなでシェアするスタイルが一般的です。「取り分け」とは、大皿から自分の取り皿に料理を移して食べることを指します。取り箸を使うかどうかはシーンや家庭によって異なりますが、食べ物をみんなで囲んで共有するという感覚は、日本の食文化に深く根付いています。
うちの食卓は「大皿」が基本でした
実家での食事を思い出すと、食卓には大きな皿に盛られたおかずがいくつか並んでいました。
唐揚げ、炒め物、煮物、刺身——どれも大皿でドンと出てきて、家族それぞれが箸で自分の分を取って食べます。取り皿を使うこともあれば、そのまま直箸で取るだけのこともありました。特にルールを意識したことはなく、それが当たり前の光景でした。
日本の家庭の食卓には、こういう「シェアスタイル」が自然に溶け込んでいます。
「取り分け」とはなにか
「取り分け」とは、大皿から自分の取り皿に料理を取ること、またはそれを他の人の分まで取り分けてあげることを指します。
日本のレストランや居酒屋でも同じで、テーブルに頼んだ料理がまず大皿や鍋ごと運ばれてきて、みんなで囲んでシェアするのが基本スタイルです。一人一皿のコース料理とは違い、「このテーブルみんなで食べる」という感覚があります。
取り箸を使う?使わない?
大皿から取るとき、「取り箸(とりばし)」を使うかどうかはシーンや家庭によって差があります。
取り箸を使うケース:
- お客さんを招いている場面
- 料亭や少しかしこまった場
- 鍋料理(共用の鍋箸があることが多いです)
直箸でもあまり気にしないケース:
- 家族・親しい友人同士の食事
- 居酒屋でのカジュアルな飲み会
- 素材によっては崩れやすくて直箸の方が取りやすいとき
厳密なルールというより、「場の空気と相手との距離感で自然に決まる」という感じに近いです。
「直箸はダメ」と教わった人もいれば、家ではずっと直箸だったという人もいます。これは家庭や地域によってかなり差があるので、「日本では絶対こう」とは言いにくい部分でもあります。
うちは直箸でも気にしない家庭だったので、今でもそんなに気にすることはないです。
けど、気にする人はやはりいるので、その場において誰か眉をひそめる人がいるかどうかで、行動を決めています。
近年では、虫歯に影響する菌を考えると、家庭内でも直箸はやめた方がいいという意見もあります。
居酒屋での「シェア」の空気感
居酒屋に行くと、このシェア文化がより色濃く出ます。
居酒屋では、テーブル全体で料理を注文して全員でつまむスタイルが基本です。「唐揚げ」を頼めばみんなの分として大皿で来ますし、刺身の盛り合わせも全員でシェアします。「自分の食べる分だけ注文する」という考え方はあまりなく、「みんなでいろいろ食べよう」という空気があります。
外国では料理を「自分のもの」として一人で食べるスタイルも多いと思いますが、日本の居酒屋では「テーブル全体でシェア」が暗黙の前提になっていることがほとんどです。
シェアしたくないなら、注文時に2皿頼んで1つを自分だけ食べる、という戦略もあります(笑)
取り分けを積極的にやる人・やらない人
面白いのは、居酒屋で食事をする時は「取り分けを積極的にする人」と「自分の分だけ取る人」がいることです。
世話好きな人、もしくは、自分が一番下だから目上の人に敬意を持って接しなきゃと思う人がいれば、取り分けという行為が発生します。
大体、最初に出てくるサラダを均等に人数に行き渡るように取り分けることが多いです。
誰かが「はい、どうぞ」と自然に取り分け始めることがあります。
これは気遣いの表れとして受け取られることが多いですが、受け取る人もそれぞれで、私が見てきた感じでは、「おお、ありがとう」と言いつつ、心の中では、「そういう行動しなくていいのに。自分で勝手にやるよ。」と思う人がいる一方、「こいつは年下なのに気が利くやつだな。」と感じる人もいます。日本人の中でも分かれるところだと思います。
ただ単純に年齢が上というだけで、相手に尊敬・敬意を要求する人は日本にもいます。
そういう人がいた場合、取り分ける必要はありませんし、そもそもその人と居酒屋に行かないことをおすすめします。(笑)
外国人が知っておくと役立つこと
日本のレストランや居酒屋で日本人と一緒に食事をするとき、大皿料理が来たら「みんなでシェアするもの」と思っておくと自然に溶け込みやすいです。
取り箸があればそれを使うと丁寧な印象を与えられますが、なければ直箸でも特に問題はありません(特にカジュアルな場では)。料理を他の人の分も取り分けてあげると、「気が利く人だ」と思ってもらえることもあるでしょう。
逆に、「これは自分のもの」という感覚で大皿料理を独占してしまうと、ちょっと場の空気が読めていないと思われるかもしれません。そのくらい「シェアが前提」の感覚は強いです。
よくある質問
Q: 取り箸がないときはどうすればいい? A: 直箸で取ってもカジュアルな場ではほとんど問題ありません。気になる場合は「取り箸ありますか?」と聞くか、使い捨て箸を裏返して取り箸代わりにする人もいます。
Q: 居酒屋で食べたい料理だけ一人分頼んでもいい? A: もちろんOKです。ただ、同席している日本人が「シェアしよう」という空気を出していたら、一人だけ自分の料理を別に頼むと少し浮くことがあります。一品だけ自分の好みで追加注文する程度なら全然問題ありません。
Q: 「直箸」はマナー違反? A: 厳密な場(料亭など)では取り箸を使うのが正式ですが、家庭や居酒屋などカジュアルな場では直箸でも普通に受け入れられます。相手との関係性と場の格式で判断するといいでしょう。